Ketua Posyandu Anggita: MBG Bantu Atasi Stunting dan Ringankan Beban Warga Padang Serai

  • Bagikan

Bengkulu – Kehadiran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat di Kelurahan Padang Serai, Bengkulu. Ketua Posyandu Anggita sekaligus pemilik PAUD, Yuyun, menilai program ini menjadi langkah nyata dalam membantu pemenuhan gizi warga, terutama di wilayah dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.

Ia menjelaskan, Padang Serai merupakan wilayah dengan masyarakat yang beragam dari berbagai suku, dengan mayoritas mata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Kondisi tersebut membuat pemenuhan gizi keluarga kerap menjadi tantangan.

Example 300x600

“Kebetulan Kelurahan Padang Serai ini mayoritas penduduknya itu multiras, banyak suku. Yang kedua, mata pencarian mereka ini mayoritas adalah petani dan nelayan. Ekonomi menengah ke bawah. Saya selaku di bidang pendidikan, saya tergerak untuk buka posyandu awalnya. Jadi sudah buka posyandu, begitu ada MBG, saya langsung terima. Katanya ada untuk 3B,” tutur Yuyun, Bengkulu, Kamis (16/4).

Berangkat dari latar belakang di bidang pendidikan, Yuyun sebelumnya telah mendirikan posyandu sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi kesehatan masyarakat, khususnya dalam menangani persoalan stunting yang sempat menjadi perhatian di Bengkulu.

Menurutnya, kehadiran MBG dengan konsep menu untuk penerima manfaat ibu hamil, ibu menyusui, dan balita menjadi solusi penting dalam meningkatkan kualitas asupan gizi masyarakat. Selama ini, warga umumnya hanya memahami makan sebatas kenyang, tanpa memperhatikan kecukupan nutrisi.

“Awalnya dulu kan Bengkulu katanya stunting, itulah awal kita. Jadi dengan ada menu 3B ini kan untuk mengatasi masalah stunting itu. Mereka kan tahunya makan, ada lauk, ada sayur. Belum tentu mencukupi angka kecukupan gizi. Dengan adanya menu 3B itu tercukupi gizi mereka,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat terhadap program ini pun sangat tinggi. Sejak awal pelaksanaan, tidak ada penolakan dari warga. Sebaliknya, kehadiran MBG justru dinantikan setiap jadwal distribusi.

Saat ini, Posyandu Anggita melayani sekitar 113 penerima manfaat, terdiri dari 31 ibu hamil dan menyusui serta 83 anak balita. Distribusi makanan yang semula dilakukan dua kali dalam seminggu bahkan menjadi momen yang selalu dinanti warga.

Ia mengaku kerap tersentuh dengan respons masyarakat, terutama saat bulan Ramadan. Beberapa warga menyampaikan bahwa makanan dari MBG bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan satu keluarga.

“Bahkan ada yang membuat saya terharu, waktu di bulan puasa, “Alhamdulillah bu, bisa untuk makan sekeluarga,” ungkap Yuyun mengingat kalimat yang dilontarkan penerima manfaat kategori 3B tersebut.

Dari sisi kualitas, Yuyun menilai menu yang disediakan sudah sangat baik dan sulit dijangkau oleh sebagian warga jika harus membeli sendiri. Menu seperti daging, ayam, dan telur yang disajikan secara bergantian menjadi nilai lebih dalam pemenuhan gizi.

Khusus untuk ibu hamil dan menyusui, porsi makanan juga diberikan lebih banyak guna memenuhi kebutuhan nutrisi yang lebih tinggi. “Kita kalau mau beli daging dua iris itu kan mahal katanya. Alhamdulillah, kalau menu untuk empat iris daging. Menu mereka bagus. Kebanyakan daging sama ayam. Diselipin sekali-sekali telur,” ucapnya.

Ia berharap ke depan Program MBG dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat, mengingat masih ada warga yang belum terakomodasi karena keterbatasan kuota.

 

Biro Hukum dan Humas

Badan Gizi Nasional

(Red)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *